Lewati ke konten utama

Era kreativitas yang dibatasi sudah berakhir.

5 Menit membaca Diterbitkan
Para pendidik dan pengunjung lagi kumpul di booth Canva Education dan Affinity di BETT. Mereka lagi eksplorasi tools kreatif yang emang didesain khusus buat kebutuhan belajar.

Tiap bulan Januari, komunitas pendidikan global ngumpul di BETT buat ngobrolin hal yang berhasil dan hal yang masih perlu dibenahin, dan juga nyari tau apa yang sebenarnya dibutuhin murid-murid supaya bisa berkembang. Tahun ini rasanya bukan kayak lagi nemuin sesuatu yang baru, tapi lebih ke momen buat kita ngakuin hal-hal yang sebenernya udah kerasa jelas sejak lama. Selama ini, model software kreatif yang ada bikin akses jadi terbatas dan susah didapet, dan para murid lah yang kena dampaknya..

Buat Affinity, tugas kami sudah jelas. Kita coba angkat masalah itu dan nawarin buat reset ulang. Tools profesional yang siap buat dukung progres, mudah diakses, terintegrasi, dan bisa dipercaya. Tools ini gratis buat sekolah-sekolah, dan bisa digunain di mana pun buat belajar.

Mulai dari kementerian, sistem pendidikan, sampe ke ruang kelas, ternyata semua punya harapan yang sama. Akses ke software itu nggak boleh selektif. Belajar nggak boleh berhenti pas jam sekolah selesai. Kepercayaan nggak boleh bersyarat. BETT bukan yang bikin prioritas-prioritas itu. BETT cuma ngebuktiin kalo prioritas ini emang udah ada di lapangan.

Masalah sistem

Apa yang kita dengar dari para pendidik bukan cuma keluhan biasa, tapi tanda adanya masalah sistemik yang lebih dalam. Biaya, kerumitan, dan kesetaraan sebenarnya semua pertanda dari satu pilihan desain yang kurang pas. Selama bertahun-tahun, pendidikan kreatif lebih banyak dibentuk oleh mekanisme pengadaan instansi dan insentif komersial, bukan dari hasil belajar murid.

  • Biaya akses yang dibatasi: model lisensi yang cuma ngejar keuntungan bikin semua orang nggak bebas berkarya. Kalau akses dibatasi, nggak semua orang bisa jadi kreatif.
  • Kompleksitas belajar jadi lambat tools yang dibuat cuma buat menuhin checklist, bukannya buat kebutuhan mengajar, malah bikin bingung dan nurunin rasa percaya diri murid.
  • Kepercayaan gak ada kepastian: harga yang tiba-tiba berubah dan aturan yang nggak jelas bikin pendidik susah buat bikin rencana jangka panjang.
  • Kesetaraan ketimpangan yang makin melebar: Kalau latihan nggak bisa lanjut di rumah, kesenjangan skill dan rasa percaya diri bakal melebar secara otomatis.

Apa artinya ini buat kita: model yang ada sekarang lebih menguntungkan sistem yang serba terbatas dan penuh kontrol. Sistem ini lebih mentingin keuntungan vendor dibanding perkembangan murid. Struktur ini nggak terjadi begitu aja, dan kita nggak boleh nganggap ini hal biasa.

Kalau belajar berhenti pas bel sekolah bunyi, ketimpangan bakal terus ada.

Banyak pendidik kaget pas tahu kalau Affinitiy tetap bisa dipakai di rumah, gratis. Reaksinya sering banget dengan nanya kayak, "Ini beneran?" atau "Ada syarat tersembunyinya nggak?". Hal ini muncul bukan karena apa yang kita tawarkan itu aneh, tapi karena selama ini pembatasan akses udah dianggap jadi hal yang wajar. Padahal, akses di rumah itu bukan sekedar bonus atau fitur tambahan. Itu seharusnya jadi hal yang paling mendasar yang bisa bikin kita bener-bener belajar. Skill itu berkembang lewat latihan, pengulangan dan eksperimen, yang nggak cukup semuanya dilakukan di jam sekolah.

Ketika keberlanjutan akses ini terjamin, fokusnya pun berubah: dari yang tadinya batasin akses, jadi semuanya bisa ikut serta. Bareng Canva dan Affinity, belajar itu nggak ada putusnya, mau di kelas atau pun di rumah. Itulah standar dasar kita.

Siapa yang diuntungkan dari sistem sekarang?

Kita nggak perlu nyebut nama pesaing buat tahu ke mana arah tujuannya. Sistem yang eksklusif itu sengaja dibuat supaya ngejaga pendapatan perusahaan dan jualan upgrade. Struktur produk yang kompleks bikin ekosistem pelatihan dan sertifikasi terus bertahan. Batasan jumlah pengguna juga bikin ekspansi terasa seperti keharusan, bukan pilihan. Di kondisi kayak gitu itu, murid cuma jadi pengguna karena terpaksa, bukan pengguna yang benar-benar diperhitungkan, dan dunia pendidikan yang akhirnya harus menanggung dampaknya.

Selama pembatasan akses masih diuntungkan, sistem akan terus mengulang hal yang sama. Kalau mau hasilnya beda, modelnya harus diubah.

Kenapa Affinity benar-benar berbeda?

Affinity bukan cuma solusi sementara buat di kelas aja. IIni adalah jembatan dari proses belajar ke karya kreatif yang sesungguhnya — tanpa batasan yang dibuat-buat.

  • Berkembang tanpa beban: mulai dari hal yang simpel, lalu kembangkan lebih dalam. Alur kerja vektor, piksel, dan dan layout-nya bakal ikut berkembang seiring bertambahnya skill — tanpa perlu gonta-ganti tool.
  • Alur kerja profesional yang menyatu: satu ruang untuk ilustrasi, fotografi, layout, dan Desain & Teknologi — mulai dari cutting laser hingga desain kemasan — supaya apa yang dipelajari di kelas beneran mencerminkan dunia kerja nyata.
  • Siap mendukung pembelajaran: tampilan antarmuka yang ramah pengguna, pembelajaran dalam aplikasi, dan ruang kerja studio yang bisa disesuaikan bikin kerumitan muncul di saat yang tepat, nggak sekaligus.
  • Belajar tetap nyambung: gratis buat di sekolah dan bisa dipakai di rumah, jadi bisa terus belajar pas lagi semangat-semangatnya — pulang sekolah, waktunya ngerjain proyek pribadi.
  • Dipercaya para pemimpin: izin penggunaan yang jelas, akses yang pasti, serta instalasi yang simpel bakal ngurangin ribetnya urusan pengadaan dan risiko perencanaan.

Ini bukan soal maksain dunia pendidikan pakai tools profesional yang kaku; tapi soal nyediain tools standar profesional yang menghargai cara orang belajar.

Apa yang berubah kalau kita reset sistemnya?

  • Akses nggak lagi jadi urusan hitung-hitungan anggaran, tapi jadi asumsi dasar dalam perancangan.
  • Keberlanjutan Pelajaran yang tadinya cuma sekali lewat, berubah jadi latihan yang konsisten dan portofolio nyata.
  • Rasa Percaya Diri tumbuh karena kompleksitas datang di waktu yang tepat, bukan sekaligus.
  • Kesetaraan meningkat karena belajar di rumah bukan lagi tugas tambahan — emang udah seharusnya begitu.
  • Relevansi Balik lagi ke jalurnya, karena apa yang diajarin di kelas beneran nyambung sama dunia kerja kreatif.

Sudah saatnya berhenti membatasi akses.

Pendidikan kreatif nggak butuh solusi tambal sulam; kita butuh reset. Sistem yang bikin akses jadi terbatas dan eksklusif itulah yang bawa kita ke masalah ini, dan sistem itu juga nggak bakal bisa ngasih jalan keluar. Para pemimpin sekarang punya pilihan yang jelas: mau tetep pertahanin akses yang terbatas dan nyebut itu sebagai "standar industri", atau mau bikin sistem yang fokus ke hasil belajar murid, yang bikin keberlanjutan, progres dan kepercayaan sebagai standar dasarnya. Kami pilih yang kedua — dan kami berkomitmen buat mewujudkannya.

Tentang penulis

Katy McCabe adalah Education Program Manager yang sebelumnya mengajar selama enam tahun, serta memiliki keahlian di bidang produk teknologi kreatif. Dia punya semangat besar buat bantu para pendidik ngenalin Affinity ke murid-murid mereka. Selain berkiprah di dunia pendidikan, Katy adalah seorang seniman tato berlisensi di studio tato miliknya.

Education Program Manager

Kosongkan file

Mulai berkreasi dengan Affinity sekarang juga.

Browser ini tidak didukung lagi. Perbarui browser Anda untuk meningkatkan pengalaman. Cari tahu selengkapnya.