Potret Mary Maka, seorang ilustrator, yang duduk di meja kerja sambil memegang pensil dan menatap kamera.

Mary Maka

Ilustrator

Animator

Serbia

Mary Maka adalah seorang ilustrator dan sutradara animasi yang karyanya terinspirasi oleh mitologi serta ikatan yang mendalam dengan alam. Memiliki kecintaan terhadap menggambar sejak usia dini, Mary selalu tahu bahwa ia ingin menempuh jalur kreatif. Ia kemudian meraih gelar magister di bidang desain grafis dan mengikuti pelatihan tambahan dalam penyutradaraan animasi. Selama lebih dari 15 tahun, Mary telah berkarya di bidang desain, ilustrasi, dan animasi, serta terus mengembangkan gaya visualnya. Dalam beberapa tahun terakhir, ia menjalani gaya hidup nomaden, bepergian ke berbagai tempat dan memperoleh inspirasi dari lingkungan baru, alam, serta hasil pengamatannya terhadap dunia di sekitarnya.

situs web
instagram
"Affinity mendukung proses kreatif saya mulai dari sketsa awal hingga komposisi akhir. Dalam menciptakan dunia penuh imajinasi, saya membutuhkan alat yang mampu menggabungkan elemen vektor dan raster tanpa hambatan. Affinity memberi saya kebebasan untuk bereksperimen dengan bentuk, warna, dan tekstur, serta membantu mengembangkan sketsa menjadi karya nyata."

Pertanyaan & Jawaban

  • Saya pertama kali merasakan hal ini saat bekerja sama dengan seorang perancang busana. Kami berencana meluncurkan lini pakaian, tetapi ketika proyek itu gagal, saya malah membuat kostum untuk diri sendiri. Saat mengerjakannya, saya menciptakan sejumlah makhluk-makhluk aneh yang kemudian hadir sebagai elemen desain pada bagian lapisan dalam dan bordir. Rasanya seperti mereka muncul begitu saja tanpa direncanakan, dan momen tersebut meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya.

    Dari situlah saya terdorong untuk mengembangkan karakter-karakter itu dan menciptakan rangkaian karya yang kemudian menjadi The Endless Forest. Momen itu membuat saya menyadari bahwa saya telah menemukan identitas visual saya dan sebuah dunia imajinatif yang ingin terus saya bangun.

  • Saya menikmati kebebasan untuk mengeksplorasi berbagai fase dalam proses kreatif. Yang paling saya sukai adalah mencetuskan ide, menuangkannya dalam sketsa, dan membayangkan bentuk akhir karya tersebut. Proses itu benar-benar memberi saya inspirasi. Di sisi lain, saya juga menyukai tahap akhir proses kreatif, ketika struktur dasar sudah ditetapkan dan saya dapat mulai menambahkan tekstur, detail, dan kesan volume pada karya. Bagian ini juga menyenangkan, karena saya bisa mendengarkan musik, membaca, atau menonton sesuatu sambil bekerja, sehingga pengalaman bekerja jadi lebih santai.

  • Saya tidak mengikuti aturan kreatif yang ketat, tetapi saya memiliki rutinitas harian yang cukup fleksibel untuk mendukung alur kerja saya. Pagi hari biasanya saya gunakan untuk mencari ide dan membuat sketsa, karena saat itulah pikiran saya terasa paling segar. Sementara itu, sore hari lebih cocok untuk pekerjaan yang bersifat teknis, seperti menyempurnakan detail atau mengerjakan tekstur.

    Rutinitas ini cukup fleksibel dan menyesuaikan dengan proyek yang sedang saya kerjakan, namun pola dasarnya relatif tetap dari tahun ke tahun. Di saat yang sama, saya juga suka memberi ruang untuk spontanitas. Sekali atau dua kali dalam seminggu, saya mengesampingkan jadwal dan bekerja lebih intuitif, mengikuti energi dan rasa ingin tahu saya.

  • Proses transisi saya berlangsung secara bertahap. Awalnya, pada tahun 2020 saya sedang mencari perangkat lunak yang dapat menangani file EPS secara akurat, sehingga grafis vektor tetap terlihat bersih tanpa gangguan atau perubahan bentuk.

    Seiring waktu, saya semakin terbiasa dengan alur kerja berbasis vektor dan benar-benar menikmati alat-alat yang tersedia di dalamnya. Titik baliknya terjadi ketika saya menyadari bahwa saya dapat menggabungkan grafis vektor dan raster(terbuka di tab atau jendela baru) dengan mulus dalam satu program yang sama. Fleksibilitas itu sangat memengaruhi cara saya bekerja, dan sejak saat itu Affinity menjadi perangkat utama dalam proses kreatif saya.

  • Saya sering membagikan satu pendekatan sederhana: mengolah lapisan dan masker secara non-destruktif(terbuka di tab atau jendela baru). Daripada langsung menghapus elemen, saya lebih memilih menggunakan masker untuk memperhalus bentuk dan tekstur. Dengan cara ini, saya bisa melakukan perubahan kapan saja tanpa mengorbankan detail yang sudah ada.

    Saya juga terbiasa mengelompokkan berbagai elemen sejak tahap awal, terutama dalam komposisi yang rumit, agar lebih mudah memindahkan dan mengubah bagian-bagian ilustrasi saat proses pengerjaan berlangsung. Mungkin kedengarannya sederhana, tapi hal ini benar-benar mempercepat alur kerja dan membuat prosesnya tetap terasa fleksibel dan mudah.

Ilustrasi savana yang cerah dan penuh warna, dihuni oleh jerapah, gajah, singa, dan burung, dikelilingi pepohonan serta tanaman-tanaman bawah sinar matahari yang hangat.